Ketika Wong Ndeso Masuk Internet

20.31.00

Internet adalah nama yang sudah tidak asing lagi bagi telinga kita saat ini. Internet sudah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat perkotaan, dan diyakini bakal menjadi kebutuhan vital bagi seluruh lapisan masyarakat, baik tua-muda, miskin-kaya maupun kota-desa .

Internet kalau boleh disebut adalah gudang ilmu dan pengetahuan yang tak terbatas (the ultimate source of science and knowledge). Disebut gudang ilmu dan pengetahuan adalah karena dengan mudahnya kita bisa mengakses segala informasi dan berita apapun yang kita inginkan hanya dengan mengetikkan kata kunci berita yang kita buru. Dan selanjutnya berita yang kita cari tersebut akan terpapar di hadapan kita dengan sejelas-jelasnya. Dan hebatnya lagi berita dan informasi tersebut juga terafiliasi dengan berita lain yang relevan.

Coba kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Hampir-hampir tidak ada lagi yang tidak berhubungan dengan yang namanya internet, mulai dari sektor pendidikan, hukum, pemerintahan hingga pertanian, perkebunan dan masih banyak sektor lainnya.

Tak dinyana memang penetrasi internet begitu kuatnya memasuki relung-relung kehidupan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan.


Pun begitu di tengah derasnya arus modernisasi kehidupan dan geliat internet yang makin menggurita, ternyata nun jauh di sana, tepatnya di pelosok pedesaan masih terdapat kelompok masyarakat yang masih begitu awam dengan apa yang kita sebut internet ini. Jangankan untuk tahu apa itu internet, komputer beserta perangkat-perangkatnya pun barangkali masih merupakan hal yang asing bagi mereka. Siapa yang penulis maksudkan di sini? Siapa lagi kalau bukan masyarakat petani bangsa ini yang identik dengan kemiskinan dan kenestapaan.

Dan berdasarkan data yang ada justru kelompok masyarakat inilah komunitas terbesar bangsa ini. Kelompok yang seharusnya sejak lama diberdayakan dan dimaksimalkan potensinya. Kenapa begitu? Hal ini dikarenakan sampai detik ini bangsa ini masih berlabel bangsa agraris, bangsa yang terkenal akan kesuburan tanahnya dan selalu menjadi objek kecemburuan bangsa lain. Namun justru para petaninya mayoritas masih termarjinalkan dan tertinggal jauh dibandingkan dengan para petani bangsa lain, baik dari segi pemanfaatan teknologi bercocok tanam, pemanfaatan bibit unggul dan pupuk yang tepat guna maupun dari sisi promosi dan pemasarannya.

Untuk itu upaya pengenalan dan pemanfaatan internet ini penting dan mendesak ditujukan bagi para petani kita untuk menaikkan dan membuat posisi tawar (bargaining position) mereka lebih kuat. Dengan melek internet tentunya para petani ini akan dapat mencari tahu bagaimana caranya bercocok tanam yang lebih baik dan modern, efisien, efektif dan berhasil guna; mencari tahu bibit-bibit yang bagus dan berkualitas; bagaimana cara mengatasi serangan hama; melakukan teknik promosi dan pemasaran yang jauh lebih baik dan langsung mengarah kepada para pembeli (buyers) dengan beban biaya untuk itu yang lebih ringan dan menghemat waktu.

Selain itu dari internet para petani juga dapat mendiversifikasikan produk-produk pertaniannya. Ambil contoh produk pertanian padi. Dari padi kini petani tidak terfokus hanya menghasilkan beras saja. Kini beras pun bisa diolah menjadi tepung beras, pulut dan sebagainya. Atau kelapa misalnya. Selain kelapa butiran, para petani juga dapat membuat minyak kelapa, briket arang batok kelapa, dan serat kelapa. Airnya juga dapat dibuat nata de coco atau virgin coconut oil. Sabutnya mungkin bernilai lebih tinggi jika dibuat anyaman, misalnya keset. Begitu juga dengan akses informasi harga di pasar yang dapat diketahui para petani dengan lebih cepat, yang tentunya memungkinkan mereka untuk mempunyai bermacam opsi untuk menjual produk-produk pertanian mereka tanpa harus tergantung pada tengkulak.

Melalui pengenalan dan pemanfaatan internet ini para petani juga diharapkan dapat terangkat derajat hidupnya. Untuk mewujudkan hal ini pemerintah dapat bercermin pada negara-negara maju yang telah lebih dahulu memaksimalkan potensi petaninya. Ambil contoh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pemerintah bisa belajar banyak pada negara-negara tersebut bagaimana mengelola pertaniannya hingga bisa menghasilkan petani-petani maju yang sejahtera.

Untuk mewujudnyatakan hal itu para petani kita perlu diberikan kemudahan akan akses informasi yang terjangkau (murah) bahkan bila perlu gratis. Perlu ada pelatihan-pelatihan yang intens berikut bimbingan-bimbingan dari departemen teknis terkait.

Peran swasta juga sangat diharapkan untuk merealisasikan hal ini. Agaknya apa yang telah dilakukan oleh Microsoft Indonesia bekerja sama dengan Asketik-organisasi nonprofit yang membantu pemberdayaan masyarakat di Pasir Waru- mendirikan CTC (Community Technology Center) Mancak, di Desa Pasir Waru, Mancak, Serang, Banten patut diapresiasi dan menjadi acuan pihak-pihak lain. Melalui tempat pelatihan tersebut para petani dan penduduk desa lainnya belajar mengenal apa itu komputer dan internet sampai sedetil-detilnya.

Diyakini, dengan penguasaan teknologi pra dan pascapanen yang baik-dalam hal ini melalui bantuan internet-akan mampu meningkatkan taraf hidup dan ekonomi petani-petani yang terdapat di sekitar 70.000 desa di seluruh Indonesia. Karena petani tidak hanya mengakses internet untuk mencari informasi harga, mengakses pasar, namun juga mengembangkan tanaman pangan baru di daerahnya. Dengan meningkatnya sumber daya masyarakat pedesaan, taraf hidup keluarga meningkat, ekonomi pedesaan pun ikut meningkat.

Dengan naiknya taraf hidup petani-petani kita sedikit-banyaknya akan berdampak pada pengurangan atau bahkan penghilangan semangat urbanisasi kaum muda desa. Sebab sudah jamak diketahui bahwa salah satu penyebab tingginya angka urbanisasi masyarakat desa ke kota adalah tidak nyamannya hidup di desa sebagai konsekuensi menjadi petani.

Kini para kaum muda tidak lagi harus berjibaku ke kota demi untuk mencari sesuap nasi. Sebab gambaran desa kini sudah jauh berbeda dengan desa sebelumnya. Rezeki kota sudah ada di desa.

Ketika para wong ndeso ini masuk internet, maka satu langkah menuju perbaikan taraf hidup telah dimulai, dan diharapkan akan terakumulasi dalam bentuk kesejahteraan petani kita di masa depan.

You Might Also Like

0 komentar

Followers

Flickr Images