MUI

Ilmu Masih Dangkal dan Nyinyir.

00.05.00

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Saya nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa.

Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat saya nyinyir dimana-mana), “Bro, jangan-jangan, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yang tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu saya dangkal. Tapi sebelum saya ngamuk, teman saya lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gue, nih. Mari kita daftar hal-hal berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah-marah.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat-ingat. “Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar-benar terdiam. “Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru-guru agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar-benar kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan? Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya? Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab-kitab karangan Imam Ghazali, dan sebagainya? Saya benar-benar jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan-jangan kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama, karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah.

Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa Senin-Kamis, Shalat tahajjud, jangan-jangan kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dengan mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yang disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Pic : Google.com

post signature

Bom Jakarta

Teror Bom Jakarta dan Pemikiran Nyeleneh

13.49.00

Hari ini, 14 Januari 2016.

Terjadi ledakan bom di Jakarta. Targetnya pos polisi, rumah makan american branded..

Ah... agak sedikit telat tuk merayakan tahun baru. Tapi mungkin ini tahun baru tandingan.

Diluar konteks duka kita, bela sungkawa kita terhadap korban.

Rakyat akan diajak berpikir apa motivnya, mengapa? apa tujuannya? siapa pelakunya? yg pasti, tujuannya bukan dalam rangka mengubah sarinah menjadi syahrini, apalagi jadi saritem.

Jawaban yg akan kita temukan di media, sudah di setting sedemikian rupa oleh mastermind plannernya.

Opini kita akan terbntuk jika nonton TV sekarang. Kita cenderung berpikir jika ledakannya di Pos Polisi, maka pelakunya pasti teroris, ISIS.

Jika terjadi ledakan di Rumah makan Amerika Brand... maka opini langsung bergerak bahwa ini adalah perbuatan agama fanatik extreme.

TV menjadi media tuk mengarahkan opini publik ke arah tertntu.

Kejadian belum ada sejam, itu di TV sudah ada narasumber.
Dan itu narasumber sudah disiapin utk manas-manasin.

Kayaknya itu narasuber dah lancar bener memberikan info tentang ledakan bom yg baru saja terjadi.

Memberikan info gak jelas. tujuannya apa?

Pembodohan Massal.
Pembunuhan Intelektual.

Dan inilah teror yg sebenarnya.

TEROR MEDIA...!!!

post signature

Followers

Flickr Images