Ibuku Pejabat "Blo'on"

03.48.00

Aku diminta pimpinan dikampusku untuk membantu seseorang temannya Anggota Legislatif yang mencalonkan diri kembali untuk dibuatkan blog. Kusanggupi karena komputer dan internet memang duniaku sejak kecil. Seorang perempuan meneleponku Januari lalu. Kami pun membuat janji untuk bertemu.

“Aku Nurul, mau bantu ibuku untuk bikin blog. Bisa, kan?” pintanya semangat.

Perempuan dewasa yang cantik jelita itu pasti anak yang berbakti sekali pada ibunya, dan ibunya pasti bangga memiliki putri secantik dan sesaleh dia, pikirku mengagumi dua perempuan sekaligus.

“Bisa, mbak ! Kasih saya semua bahannya. Profil, photo, tulisan, atau apa saja tentang ibu mbak”

“Ok, ntar aku kasih selengkap-lengkapnya, ya ! Bisa kukirim lewat email, kan ?”

“Bisa, mbak !”

Mbak Nurul yang cantik itu tidak lama menemuiku, karena dari penampilannya aku bisa memastikan, bahwa dia seorang yang memiliki pekerjaan yang bagus. Belakangan aku tahu, bahwa dia adalah seorang sekretaris sebuah perusahaan terkenal di negeri ini, yang pabriknya ada di kota tempatku kuliah.

Beberapa hari selanjutnya aku menerima feed blog tentang ibunya.
Dari profil yang kuterima, ibu dan anak sama cantiknya. Berbahagia sekali laki-laki yang menjadi suami dan ayah perempuan-perempuan cantik itu. Ibu itu kemudian kukenal sebagai seorang salah seorang pimpinan di lembaga legislatif partai tertentu, kebetulan partai yang tidak familiar di kehidupan sehari-hariku.

Benar-benar keluarga yang sukses, pikirku.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat blog yang feednya sudah dipersiapkan.
Suatu hari mbak Nurul menyampaikan salam dari ibunya, bahwa dia ingin berterimakasih secara langsung.

Tibalah hari yang dirancang itu.
E. Hafazhah, sang pejabat itu menemuiku di kampus.
Mengenakan busana muslimah sederhana dan tidak kutemukan sosok pejabat di pertemuan pertama kami.

Aku merasa seperti sudah mengenalnya lama. Mungkin aku terpengaruh dengan penampilannya yang hampir tiap hari di koran-koran lokal di kotaku.

Dari perbincanganku hari itu, bisa kusimpulkan bahwa ibu ini, awet muda, cantik, cerdas, ramah, baik hati, tawanya tulus, dan pejabat yang suka tampil sederhana.

Kekagumanku padanya mulai tumbuh di hatiku.

Pejabat yang di kalangan teman-temanku jadi bahan pembicaraan yang tidak mengenakkan itu sama sekali tidak kutemukan pada ibu itu.

Dan ternyata mbak Nurul itu bukan anak kandungnya, melainkan anak angkatnya.

Sambil bercanda aku pun sempat bergurau :
“Saya juga mau jadi anak ibu”

“Oh ya... ! Boleh…!” jawab ibu itu ramah.

“Jangan mau, Horas ! Dia galak lho…” timpal mbak Nurul.

Aku pun tergerak untuk memanggilnya “mama” sebagaimana mbak Nurul memanggilnya.
Dan sejak saat itu kami berinteraksi lewat handphone dan internet. Karena ternyata ibu itu adalah “ibu gaul abis”. Semua hal updated banget di kepalanya. Musik, film, bahasa, ilmu pengetahuan, apalagi politik dalam dan luar negeri. Yang tidak kalah asyiknya, semua informasi yang keluar dari mulutnya dibalut ilmu agama yang “dalam banget” dengan gaya kontemporer dan “ngena”.

Hari-hariku selanjutnya aku banyak mendapat ilmu-ilmu baru tentang hidup. Hampir semua masalah yang kuhadapi kusampaikan padanya, dan selalu saja mendapat solusi cerdas dan tepat. Semua masalah yang kuhadapi jadi ringan dalam bimbingannya.

Kujadikan dia sebagai ibu ke duaku. Aku merasa mendapat sesuatu yang tak terkatakan nilainya. Mama, ternyata sudah memiliki anak angkat semodel aku sejak gadis, semasa kuliah semester III, anak pertamanya adalah seorang gadis muallaf dari Medan, korban kekerasan dalam rumah tangga. Mama sudah menikahkan anak sebelum ia sendiri menikah. Disusul seorang remaja laki-laki muallaf, anak terlantar. Tapi menurutnya, dia merasa gagal mengasuh anak angkat ke duanya, karena ternyata anak yang diasuhnya kali ini adalah seorang anak yang memiliki orientasi seksual menyimpang, anak laki-laki itu ternyata adalah seorang anak perempuan. Pengalaman yang belum cukup, menurutnya ikut mempengaruhi kegagalannya. Ia tidak dapat mengembalikan anak asuhnya menjadi seorang anak perempuan yang normal, juga tidak dapat mempertahankan imannya.

Ia sendiri sering heran, kenapa selalu ada anak baru dalam hidupnya. Sementara anak kandung yang terlahir dari rahimnya hanya dua orang, enam yang lainnya gugur sebelum genap 2 bulan di dalam rahim. Ia memiliki banyak kelemahan di rahim. Terakhir, setelah almarhum suaminya meninggal, kanker rahim membuatnya kehilangan seluruh organ paling khas dalam diri seorang perempuan.

Menurut salah seorang anak angkatnya yang lain, aku memanggilnya kak Zahra, seorang muallaf dari Sragen, mama angkatku adalah seseorang yang mimiknya tidak pernah berubah, walau cobaan seberat apapun menimpanya.

Yang kutahu, saat ini ia memiliki 11 (sebelas) anak angkat.
Hal yang tak masuk dalam otakku adalah apa untungnya ia memelihara anak-anak yang hampir seluruhnya memiliki persoalan-persoalan berat. Tapi tiap kali kutanya, dia selalu balik bertanya: “Lalu menurutmu, kenapa kamu mau juga jadi salah satu di antaranya?”

Benar, aku pun cuma merasa nyaman memilikinya. Padahal sebagai pejabat, waktunya 75 persen untuk pekerjaannya, namun kami selalu mendapat jatah quality time bersamanya. Bisa lewat telepon, SMS, email atau saling mengunjungi.

Satu hal yang paling membuatku kagum adalah bahwa ia pun tetap mengunjungi majelis-majelis ta’lim yang telah dibinanya sejak gadis secara rutin di antara seabreg jadwal yang memenuhi kepalanya. Tapi ia selalu punya waktu untuk mengantar sendiri adik-adik angkatku ke sekolah, lalu ke majelis-majelis itu, baru kemudian menuju ke tempat kerjanya, kadang di sore dan malam hari, ada majelis-majelis tertentu yang ada di jadwal hariannya.

Praktis rutinitas itu berjalan sejak pukul 6.30 sampai larut malam. Sesampai di rumah, ia seringkali menghabiskan malam dengan menulis artikel yang dikirimnya ke media lokal. Ia seringkali hanya membutuhkan istirahat 2-4 jam saja untuk tidur.

Beberapa hari yang lalu aku bertanya : “Ma, kok Mama belum naik haji, sih ?”

“Iya. Mama juga pengen. Tahun 2007 kemarin Mama hampir berangkat. Tapi Allah bicara lain. Mama malah tidak berdaya dihantam kanker. Uangnya habis untuk berobat. Tapi Mama selalu diberiNya kesempatan untuk mengunjungi rumahNya dalam mimpi, hampir tiap musim haji. Mungkin jatah Mama datang ke sana baru dalam mimpi aja, ya !”. Aku melihat jelas ada genangan airmata yang kemudian ditelannya dalam-dalam, dan segera tersenyum untukku. Senyum yang selalu menentramkanku.

Ada hal lain yang sungguh mengejutkan aku beberapa hari yang lalu, dia menasihatiku untuk selalu berbaik sangka pada Allah. Allah punya waktu dan cara sendiri untuk memanjakan hambaNya, dia contohkan keadaanya sekarang, dia bersyukur, meskipun dia tidak terpilih lagi menjadi anggota legislatif, rumah yang ia tempati dapat dilunasinya 21 Oktober 2009 kemarin.

Hah… ?

Kok bisa ?

Sungguh, aku tidak memiliki keberanian untuk bertanya mengapa.

Keesokan harinya kutanya kak Zahra tentang hal itu.
“Mama ga bisa pegang uang, Horas ! Jangankan yang ada di dompetnya, yang ada di tabungannya pun diambilnya juga kalau ada yang memintanya. Dan Mama itu pejabat paling “blo’on” yang pernah kukenal. Teman-temannya kaya-kaya. Tapi dia ? Satu-satunya yang daftar kekayaannya nol rupiah selama dua periode menjabat, ya dia ! Idealismenya “akut” banget dia. Tapi itulah Mama kita. Kalau kakak atau saudara-saudaranya lagi kena virus duniawi, meminta agar kayak pejabat-pejabat lain yang main proyek dan mau terima tip sana tip sini, dia malah bilang, terusin hurufnya, tipu sana tipu sini. Ya udah, itulah Mama kita. Mama yang tidak melahirkan kita tapi cintanya “full” untuk kita”.Kak Zahra panjang lebar berbagi cerita awal perkenalannya dengan ibu angkat kami, yang menurutnya hari-hari paling kelam itu dapat ia lewati dalam gendongan ibu yang belum lama dikenalnya.

Malam ini, aku tidak bisa tidur mengingat sosok ibu angkatku. Ibu yang menuntunku belajar menulis yang baik-baik di blog dan mencari yang baik-baik di fasilitas internet lainnya. Ibu yang menyemangatiku ketika kehilangan laptop kesayanganku, dan disuruhnya aku bersyukur karena aku masih diberi peringatan sayang oleh Allah. Ibu yang sekarang tidak punya pekerjaan, tetapi tetap melakukan banyak hal yang tidak menghasilkan uang. Ibu yang tetap mengirimiku pulsa bila aku terlambat menjawab SMSnya. Ibu yang malam ini pasti sedang menulis di depan komputer, lalu istirahat dengan shalat malam, dan berdo’a untuk semua anak-anak, keluarga dan murid-murid ngajinya. Ibu yang saat ini harus menafkahi anak-anak dan keluarganya yang masih dalam tanggunganya. Ibu yang punya “sinyal” kuat padaku dan orang-orang yang dicintainya. Ibu yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai Ibu Rumah Tangga, bukan sebagai pejabat tertentu. Ibu yang tidak pernah istirahat berjuang itu…

Ya Allah, aku ingin Mamaku mendapat hiburan dariMu.
Aku tahu dia sangat butuh hiburanMu. Dia tidak lagi berfikir mendapat hiburan dari laki-laki setelah Almarhum suaminya meninggal, meskipun secara fisik masih relatif menarik. Dia hanya berfikir untuk orang lain.


Aku ingin dia bahagia seperti aku bahagia setelah menang dalam beberapa Kontes Blog yang disupportnya. Aku ingin bahagia seperti kebahagiaanku saat disapanya lewat telepon, SMS, atau email persis pada saat aku sedang gelisah atau bersedih karena sesuatu hal. Aku ingin Engkau memanggilnya ke rumahMu.

Maka,
Wahai jari-jemariku,
menarilah untuk ibuku
dan teruslah menari sampai ke tanah suci.
Cilegon, 31 Oktober 2009


TULISAN INI SEBAGAI SALAH SATU PESERTA LOMBA MENULIS "EMAK NAIK HAJI" YANG BEBERAPA WAKTU LALU TELAH DIUMUMKAN PEMENANGNYA, OLEH KARENA ITU LEPAS SUDAH KEHARUSAN UNTUK TIDAK MEMPOSTING TULISAN INI.


post signature


You Might Also Like

14 komentar

  1. Assalamualaiku.....menghulurkan persahabatan,salam kenal
    seorang ibu seperti mama zahra,merupakan anugrah yg tak terhingga.
    berbahagia lah yg jadi anak2nya insyaallah ada berkah....ketabahannnya membuat semangat tumbuh.kirimkan salam ku buat mama angkatnya

    BalasHapus
  2. keren gan....

    keren pokoknya...

    BalasHapus
  3. maen2 ke blogku dunk gan...

    BalasHapus
  4. @Elpa : Thanks da jadi yang pertama comment di postingan ini... Namanya Mama Hafazhah. Zahra itu kk angkat saya yang anak angkatnya juga.

    @Nurie : Thanks yaaaaa.....

    @Atw : Kaskuser sejati nih sepertinya...haha..saya akan segera ke TKP

    BalasHapus
  5. waahh ternyata tulisannya buat kontes itu yaaaa .. good good! :D

    BalasHapus
  6. komen dolo yaa baca nya ntar aja hehehehe

    BalasHapus
  7. jika anda ingin blog anda dalam daftar "blogger Indonesia" yang saya punya, cukup mengomentari sebuah artikel saya, dan menuliskan permintaan untuk di cantumkan linknya, cukup itu saja.

    oia, artikelnya menarik nih, pengalaman pribadi yah? hehe,

    BalasHapus
  8. @Anak Nelayan : wah...ini nih comment yang tidak semestinya nongol...heheh

    @Hanif : ya sudah kalau begitu

    BalasHapus
  9. http://ipangsan.web.id
    LINK mu telah ku pasang sob

    BalasHapus
  10. @Ipangsan : Akan saya kroscek kesana

    @Elyas : makasih

    BalasHapus
  11. ALLAHU AKBAR....!!!
    ternyata msaih ada "mutiara" yang terselip di antara batu kali
    salam kenal buat yang empunya blog

    BalasHapus

Followers

Flickr Images